Tiada arti bagi takbir yang diucapkannya bila yang diterapkan dan di
junjung tinggi adalah yang diberikan loyalitas adalah hukum buatan
manusia,
Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman :
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“supaya kalian menyempurnakan bilangan (shaum
Ramadlan) dan supaya kalian mengagungkan Allah atas hidayah yang Dia
berikan kepada kalian, serta supaya kalian bersyukur.” [QS. Al Baqarah (2) : 185].
SEMINGGU ini gema takbir dikumandangkan. Inilah hari raya setelah kaum Muslimin berbuka dari ibadah
shaum Ramadlan. Ied adalah perayaan yang selalu berulang, sedangkan Al Fithr adalah berbuka dari
shaum. Jadi ‘Idul Fithri adalah hari raya yang selalu berulang yang dilakukan setelah berbuka dan selesai menunaikan
shaum Ramadlan.
Setelah Allah ta’ala menjelaskan pensyari’atan kewajiban
shaum Ramadlan dan kewajiban mengqadla atas orang yang tidak
shaum karena sakit, musafir, hamil, dan menyusui dan yang serupa itu.
Ayat diatas memberikan arahan kepada kita agar sempurna
shaum
kalian sebulan penuh dan supaya kalian memuji Allah ta’ala dengan
mengagungkannya dalam bentuk takbir dan dzikir di akhir ibadah
shaum kalian. Perintah dzikrullah ini bukan hanya setelah selesai ibadah
shaum,
akan tetapi setelah selesai setiap ibadah, di mana setelah ibadah
shalat jum’at Allah ta’ala memerintahkan untuk dzikrullah, sebagaimana
firman-Nya :
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا
“Kemudian bila telah ditunaikan shalat (jum’at), maka
bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah dari karunia Allah serta
mengingatlah Allah dengan banyak.” [QS. Al Jum’ah (62) : 10]
Begitu juga sehabis ibadah haji, Dia berfirman :
فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ
“Kemudian bila kalian telah menunaikan manasik (haji) kalian, maka kalian mengingatlah Allah….” [QS. Al Baqarah (2) : 200]
Begitu juga sehabis shalat fardlu, Ibnu ‘Abbas
radliallahu ‘anhuma berkata :
ماكنا نعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بالتكبر
“Kami tidak mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kecuali dengan takbir.” [HR Al Bukhari]
Para ulama dari ayat
“dan supaya kalian mengagungkan Allah…”
ini mengambil kesimpulan pensyari’atan takbir di hari raya Iedul Fthri,
sedang waktunya adalah mulai dari maghrib 1 Syawal sampai imam memulai
melaksanakan shalat Ied.
Takbir اللّهَ اكبر adalah ungkapan pengagungan Allah yang harus
muncul dari lubuk hati yang sangat dalam. Di mana takbir adalah
pengakuan hati bahwa Allah itu Maha Agung lagi Maha Besar dari
segalanya, diikrarkan dengan lisan serta pengakuan itu dibuktikan di
dalam praktek kehidupan. Tapi bila di dalam prakteknya ternyata ada hal
lain yang lebih didahulukan dan lebih dipentingkan daripada Allah ta’ala
dan hukum-Nya, maka sesungguhnya ikrar takbir yang diucapkan dengan
lisan itu adalah dusta dan hanya hiasan mulut semata.
Allahu Akbar jika dikumandangkan akan melahirkan keimanan yang kuat.
Alangkah kecil, ilmu, harta, kekuasaan dan pengaruh yang kita miliki.
Subhanallah, Maha Suci Allah. Bukankah kita seringkali tidak mampu
memelihara kebersihan hati, pikiran, mulut, dan anggota tubuh dari
maksiat. Al-Hamdulillah, alangkah banyaknya karunia Allah yang
diberikan kepada kita. Sudahkah nikmat itu kita optimalkan untuk
mengabdi kepada-Nya !.
Allah Maha Agung… Allah Maha Besar… Dia lebih besar daripada anak dan
isteri, oleh sebab itu Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan isterinya
Hajar dan puteranya yang masih bayi yaitu Ismail di lembah yang kering
kerontang yang tidak ada air lagi tidak ada tanaman, dikarenakan Allah
ta’ala yang memerintahkannya. Di dalam Shahih Al Bukhari: Hajar bertanya
kepada Ibrahim: “Apakah Allah yang telah memerintahkan engkau dengan
hal ini? Ibrahim ‘alaihissalam menjawab: Ya”. Maka Hajar dengan penuh
keyakinan mengatakan: “Kalau begitu, maka Allah tidak akan
menyia-nyiakan kami.”
Ini adalah contoh realisasi ucapan takbir, di mana perintah Allah
ta’ala didahulukan walaupun harus meninggalkan anak isteri yang sangat
dicintai, begitu pula saat jihad sudah menjadi
fardlu ‘ain pada
kondisi seperti sekarang, maka bukti kongkrit takbir yang diucapkan di
dalam shalat pada setiap gerakan adalah orang muslim keluar berjihad
meninggalkan anak isteri….Allahu Akbar….
Kisah Siti Hajar
Aplikasi mentakbirkan Allah Subhanahu Wata’ala ada pada SIti Hajar.
Beliau adalah contoh di dalam sikap seorang wanita Muslimah, di mana ia
menerima keputusan Ibrahim ‘alaihissalam tercinta untuk meninggalkannya,
karena itu adalah perintah Allah ta’ala, sedangkan Allah dan
perintah-Nya adalah lebih besar daripada Ibrahim suaminya, dan ia yakin
bahwa Allah ta’ala tidak akan menyia-nyiakannya.
Begitulah seharusnya wanita Muslimah bersikap saat suaminya memenuhi
panggilan kewajiban jihad, dia jangan khawatir, dan jangan
menghalang-halangi suaminya dari menunaikan kewajiban bila takbir yang
selalu dia ucapkan di dalam shalatnya itu benar lagi jujur… اللّهَ اكبر
Begitulah makna takbir اللّهَ اكبر ini dibuktikan oleh para sahabat
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, di mana mereka pergi jauh
berbulan-bulan bahkan ada yang tidak pulang lagi meninggalkan anak
isteri mereka di dalam menunaikan perintah Allah berjihad menegakkan
kalimat Allah di muka bumi ini. Para sahabat dan generasi salaf
melakukan hal ini dan para isteri mereka pun rela dan tulus ikhlas
sepenuh hati menerima hal itu, ini dikarenakan makna اللّهَ اكبر
terpancang di dalam jiwa mereka.
Namun banyak realitas kaum muslimin yang berat meninggalkan isteri
mereka dan begitu pula para isteri menghalangi para suami mereka dari
pergi jihad yang sudah fardlu ‘ain, padahal ucapan takbir selalu mereka
lantunkan, maka apakah sseperti itu bukti kongkritnya? Yang ada malah
wujud الحب اكبر (Cinta Maha Besar?!!!).. Aku tak bisa hidup tanpa dirimu
di sisiku!!!? Yang menghantarkan orang itu pada posisi fasiq di dalam
surat (At Taubah (9) : 24).
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ
وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ
إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ
فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي
الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Bila bapak-bapak kamu, anak-anak kamu,
saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, karib kerabat kamu,
harta-harta yang kamu usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan
kerugiannya serta tempat-tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih
kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari jihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusan-Nya. Dan
Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.” [QS. At Taubah (9) : 24].
Allah Maha Besar…Allah lebih besar dari anak kita, oleh sebab itu
jangan sampai kecintaan kepadanya menjadi penghalang di dalam
menjalankan perintah Allah ta’ala. Perhatikanlah makna اللّهَ اكبر yang
terpatri di dalam jiwa Ibrahim ‘alaihissalam tatkala diperintahkan Allah
untuk menyembelih putera kesayangannya Ismail ‘alaihissalam, dan
perhatikan pula sikap anak yang tunduk dan rela sepenuh hati menerima
konsekuensi perintah Allah ta’ala :
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ
مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء
اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“(Ibrahim) berkata: “Wahai anakku ! Sesungguhnya aku bermimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu !” Dia
(Ismail) menjawab: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan
(Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang
yang sabar.” [ QS. Ash Shaffat (37) : 102].
Ini dia Abu Salamah
radliallahu ‘anhu, tatkala kewajiban
hijrah sudah tetap ke Madinah, maka ia pergi hijrah meninggalkan anak
dan isterinya yang ditahan oleh kaumnya, dan begitulah Generasi salaf
pergi jauh berjihad meninggalkan anak-anaknya yang masih dikandung atau
masih kecil, apakah hanya kita saja yang memiliki anak kecil dan isteri
yang sedang hamil tua? Mana makna اللّهَ اكبر yang selalu kita
ulang-ulang di dalam gerakan shalat?!!! Coba lihat lagi ayat 24 At
Taubah tadi…! Anak itu titipan dan milik Allah, maka jangan sampai ia
menghalangi pelaksanaan kewajiban…
Allah Maha Besar… Dia lebih besar dari ayah sendiri, oleh sebab itu
Ibrahim ‘alaihissalam berlepas diri dari ayahnya tatkala ayahnya itu
bersikukuh diatas kekafiran.
فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ
“Kemudian tatkala telah jelas baginya (Ibrahim) bahwa ayahnya itu
adalah musuh bagi Allah, maka ia (Ibrahim) berlepas diri darinya.” [ QS. At Taubah (9) : 114].
Ini dia Abu Ubaidah Ibnul Jarrah pada perang Badar membunuh ayahnya sendiri yang kafir, begitu juga Abu Bakar Ash Shiddiq
radliallahu ‘anhu menempeleng ayahnya sendiri Abu Quhafah di Mekkah sampai tersungkur, dan hal itu diceritakan orang kepada Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam maka beliau bertanya :
“Apa benar engkau melakukannya wahai Abu Bakar?” Ia menjawab:
“Demi Allah seandainya ada pedang di dekat saya, tentu saya pukul dia dengannya.” Itu tatkala Abu Quhafah masih kafir dan menghina Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Dan berkitan dengan mereka itu turun firman Allah ta’ala :
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ
أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapatkan orang-orang yang beriman kepada
Allah dan hari akhir mereka menjalin kasih sayang dengan orang-orang
yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka itu bapak-bapak
mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau karib
kerabat mereka….” [ QS. Al Mujadilah (58) : 22].
Ini juga Sa’ad Ibnu Abi Waqqash
radliallahu ‘anhu,
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, At Tirmidzi dan yang lainnya,
tatkala ia masuk Islam dan komitmen dengan tauhid, ibunya berkata :
“Bukankah Allah telah memerintahkan untuk berbakti ? Demi Allah saya
tidak akan makan dan minum apapun sampai saya mati atau kafir.” Namun
Sa’ad tetap teguh dengan prinsip tauhid walaupun disebut durhaka, dan
Allah ta’ala pun menurunkan firman-Nya :
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا
“Dan Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar ia berbuat baik
kepada kedua orangtuanya, dan bila keduanya memaksamu supaya
menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu
tentangnya, maka jangan kamu taati keduanya….” [ QS. Al Ankabut (29) : 8].
Ini semua dikarenakan makna اللّهَ اكبر terpatri di dalam lubuk hati
mereka, namun sungguh sangat disayangkan realita orang-orang yang
mengaku muslim dan sering bertakbir di masa sekarang, di mana
dikarenakan desakan orangtua dan keinginan ingin menyenangkan keduanya
banyak diantara mereka yang mendaftarkan dirinya untuk menjadi aparat
thaghut (polisi, tentara dan yang lainnya), maka mana makna takbir yang
selalu diucapkan itu? Batal dengan perbuatannya tersebut…..
Banyak pula yang mundur dari ikut serta di dalam jihad karena
dilarang orangtua atau mertua, padahal jihad sudah fardlu ‘ain tidak
usah izin orangtua apalagi mertua. Maka mana makna اللّهَ اكبر yang
sering diucapkan ?.Allah Maha Besar… Dia lebih besar dari semua harta
benda dan perintah-Nya harus didahulukan walaupun harus mengorbankan
harta benda.
Makna inilah yang dibuktikan oleh Shuhaib Ar Rumi Radliallahu ‘anhu,
di mana saat Allah ta’ala mewajibkan hijrah ke Madinah, maka ia pun
hijrah walaupun harus menyerahkan seluruh harta bendanya kepada kafir
Quraisy agar mereka melepaskan dia pergi hijrah, maka tatkala ia sampai
ke Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya:
“Beruntung jual belinya wahai Abu Yahya, beruntung jual belinya wahai
Abu Yahya.
Dan turun firman-Nya :
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk
mencari keridlaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada
hamba-hamba-Nya.” [QS. Al Baqarah (2) : 207].
Namun zaman sekarang banyak orang yang menjual agamanya demi
mendapatkan kenikmatan atau keleluasaan hidup di dunia ini yang hanya
sementara. Di mana segolongan manusia mengorbankan tauhidnya
berbondong-bondong menjadi polisi dan tentara thaghut demi mendapatkan
gaji bulanan dan tunjangan hidup, segolongan mereka mau menjadi
mata-mata thaghut yang mengawasi dan melaporkan kegiatan amal jihadi
kepada thaghut dan ansharnya, sebagian yang lain rela menjadi alat
penjinak para singa tauhid dan jihad demi kepentingan penguasa thaghut
dalam rangka mendapatkan imbalan dunia dan lain sebagainya….
Allah Maha Besar… Dia lebih besar dan lebih agung daripada sebidang
tanah dan hukum-Nya lebih besar daripada sekedar tanah air. Di mana
ajaran Allah harus di junjung tinggi walaupun berbenturan dengan
kepentingan tanah airnya atau negaranya. Oleh sebab itu Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hijrah meninggalkan Mekkah tanah airnya
menuju Madinah dan begitu pula para sahabatnya…
Allah ta’ala pun telah mengancam orang yang lebih mencintai tanah
airnya sehingga menelantarkan hukum dan ajaran Allah, di mana mereka
lebih mengutamakan dan mengedepankan kepentingan bangsanya dan negaranya
daripada agama dan hukum Allah, dan demi meraih ridla anak-anak bangsa
yang kafir mereka menggugurkan hukum Islam di dalam aturan sistim
pemerintahan dan mereka menggunakan hukum buatan yang direstui oleh
orang-orang kafir asli dan orang-orang murtad…sehingga gugur pula makna
takbir yang mereka ucapkan, tiada arti bagi takbir yang diucapkannya
bila yang diterapkan dan di junjung tinggi adalah hukum
thaghut, tidak ada arti bagi takbir yang mereka ucapkan bila yang diberikan loyalitas adalah hukum buatan manusia.
Sumber:
www.eramuslim.com/